Wednesday, February 20, 2008

“Manajemen Penjilat” Virus yang Mematikan

Dalam sejarah peradaban dunia, saya melihat ada begitu banyak cerita-cerita kepahlawanan yang menggambarkan peristiwa heroic, sikap-sikap patriotic, sifat-sifat keberanian hingga tidak luput pula sikap kepribadian oportunis. Dari cerita Kehebatan Musa memimpin Bani Israel keluar dari perbudakan Mesir hingga cerita panjang Fidel Castro menolak Hegemoni AS. Atau mungkin cerita kepahlawanan The King of David ketika mengalahkan Raksasa Goliath hingga George Soros yang menggagahi sebagian besar Ekonomi dan Keuangan Dunia.

Masih begitu hangat pula di pikiran kita, ketika Media-media publik diawal bergulirnya tahun 2008 tak henti-hentinya menayangkan gugurnya Tokoh Utama “Kekaisaran” Orde Baru. Seorang public figure yang mencatatkan dirinya dalam sejarah kelam Tata kelola Pemerintahan Indonesia, seolah dibangunkan kembali kejayaannya oleh Media-media massa tersebut. Tapi, tak apalah. Itu semua tidak perlu kita besar-besarkan. Karena memang ternyata masih banyak orang-orang yang pernah menikmati nikmatnya serta indahnya orde pembangunan “fisik yang kapitalis” di era pak Harto. Konkritnya, orang-orang yang sukses menerapkan ilmunya sebagai seorang manager yang fasih berkata “Menurut Pentunjuk Beliau” (MPB) dan memiliki prinsip “Cari Muka” (CM) serta berpedoman pada “Asal Bapak Senang”(ABS).

Tidak luput pula masyarakat disekitaran dinamika tempat saya mengekspresikan diri, virus-virus MPB, CM, dan ABS ternyata bukan barang baru. Jika mau ditelisik lebih jauh, ternyata virus-virus inilah yang telah mengangkat, menggerogoti sekaligus menumbangkan kejayaan Soeharto pada masanya. Dengan menerapkan “Manajemen Penjilat”, atau tata kelola organisasi yang mengendus-endus di pantat kekuasaan untuk tujuan mengamankan diri, maka seseorang menganggap dirinya akan mendapatkan kesejahteraan dan kenyamanan hidup sejalan dengan jejak penguasanya.

Tapi perlu diketahui, sudah banyak bukti jika di sekeliling penguasa tumbur subur jamur para Penjilat, maka itu pertanda bahwa kekuasaan dan institusi mulai lapuk dan menuju ke ambang kehancuran. Logikanya, Pemimpin kehilangan kontrol akibat dari legitimasi semu orang-orang disekelilingnya. Walhasil, institusi tidak dapat dewasa dalam menghadapi perbedaan-perbedaan pendapat yang mengkontrol, karena fungsi pengendalian terhegemoni dengan kekuasaan. Selanjutnya, organisasi tidak dapat belajar dari turbulensi perubahan karena bergantung pada cara berpikir dan wawasan dari penguasa. Apalagi di masa sekarang sangat sulit mencari pemimpin berani menanggalkan kepentingan pribadi dan kelompoknya, lalu tulus mendedikasikan hidupnya bagi khalayak.

Rasa-rasanya kita perlu memerangi para penganut Manajemen Penjilat, dalam hal ini ABS dan CM. Sama halnya ketika Orde Baru getol dengan memerangi hebatnya ajaran Marxisme. Terutama di sebuah Institusi pendidikan,“Terapi” bagi para komprador harus di dilakukan, karena bahaya laten Penjilat-isme. Karena kita ketahui itu bukan suatu bentuk dukungan bagi seorang pimpinan yang kita gadang-gadang. Tetapi merupakan Virus yang mematikan perlahan-lahan sebuah kepemimpinan dan akan menciderai institusi yang kita cintai.

Ciri-ciri penganut Ajaran Manajemen Penjilat :

  1. Melaksanakan pengelolaan organisasi berpedoman pada Asal Bapak Senang.
  2. Tujuannya adalah kepentingan mengamankan diri
  3. Berdinamika mengandalkan prinsip-prinsip Cari Muka, lalu setelah menemukannya cenderung bermuka dua.
  4. Bersikap reaksioner dan responsif ketika ketika menghadapi isu.
  5. Menganggap keberhasilan organisasi adalah karena kehebatan dirinya, lalu melupakan Pemimpinnya sendiri.

Monday, February 18, 2008

Trimester Vs Semester = "capek deh.....!"

Jenuh, jengah, monoton, dan bosan jika saya masih mendengarkan perdebatan (kalau tidak mau dikatakan diskusi) mengenai persoalan Trimester Vs Semester. Apalagi ketika "pihak-pihak" tertentu memanfaatkan momentum itu hanya untuk mengatakan "nih lho..., saya orang yang ngerti dan vokal". Padahal mereka tidak pernah mengalami dua era tersebut, mengajukan gagasan hanya karena mendengar dari omongan orang lain.

Untuk beberapa punggawa dari Kampus UKSW, ada kecenderungan mereka hendak merubah kembali penelenggaraan kegiatan kuliah dari Trimester ke Semester. Segala upaya ditempuh dan segala apologi coba dilontarkan guna melegitimasi kebijakannya. Memang tidak ada salahnya jika seorang pimpinan di sebuah institusi menggulirkan sebuah kebijakan, apalagi hasil dari keputusan mayoritas dari forum pembuat keputusan tertinggi. Tentu ini perlu dilaksanakan oleh seluruh jajaran yang ada tanpa terkecuali.

Akan tetapi, manarik untuk disimak lebih jauh. Pertama, Para Punggawa Universitas sekarang tentu menjadi orang-orang yang eksis pada masa transisi dari Semester ke Trimester. Perdebatan yang alot pasti juga mereka lakoni. Pertanyaannya, mengapa pada saat perdebatan terjadi, tidak "menolak" dengan tegas pelaksanaan Trimester?. Jika ada alasan hanya untuk menciptakan suasana yang kondusif pada saat itu, apakah itu merupakan suatu tanggung jawab organisatoris selaku komponen yang ada di institusi akademik (dimana segala sesuatunya diputuskan atas pertimbangan yang matang, ilmiah dan strategis). Sepertinya, kok saya menilai ini hanyalah sikap-sikap untuk mencari aman (kalau tidak mau dikatakan bermuka dua).

Kedua
, dalam sebuah institusi pendidikan yang didalamnya menjadi tempat persemaian ilmu - pengetahuan dan manusia yang holistik, ternyata pada pengelolaan organisasi tidak ubahnya memperlihatkan pengelolaan yang tradisional. Tidak ada roadmap pengelolaan jangka panjang yang jelas, jika yang terjadi hanya gonta-ganti sistem dan bolak-balik kebijakan. Parahnya tidak mempertontonkan inisiatif pengembangan organisasi yang bersifat strategis.

Ketiga
, sangat disayangkan jika saat ini mahasiswa kelihatannya tidak memiliki posisi tawar di mata seluruh komponen civitas akademika. Padahal jika mau ditelisik lebih jauh, posisi sebagai mahasiwa merupakan kelompok yang terkena dampak lebih besar, ketika para punggawa-pungawa kampus "bermain Ping-pong". Anehnya lagi lembaga-lembaga kemahasiswaan yang menjadi corong aspirasi mahasiswa, tidak sedikit yang dimanfaatkan oleh kepentingan pihak-pihak tertentu. Alias menjadi megaphone bagi beberapa pihak.

Memang isu Trimester VS Semester perlu kita gagas. Tetapi mari kita coba untuk menempatkan profesionalitas dan fungsi kita masing-masing pada porsi yang tepat. Sehingga kita tidak akan bertindak layaknya seorang pahlawan kesiangan, yang terus mengumbar pernyataan-pernyataan "patriotik".